Kisah Atlit Renang Perpanas Korban Bom Ikan

Jakarta, 22 Oktober 2016

Tak semua atlet difabel yang berpartisipasi dalam Pekan Paralimpiade Nasional (Peparnas) Jawa Barat 2016, memiliki keterbatasan karena cacat dari lahir. Beberapa diantara mereka ada juga yang menjadi atlet difabel karena terkena musibah seperti yang dialami atlet renang dari Papua, Melianus Yowei (28).

Melianus dahulu tidak memiliki keluhan apapun terhadap penglihatan, namun sekarang dia hanya bisa melihat dengan jarak pandang paling jauh delapan meter. Penglihatannya bermasalah akibat terkena bom sepuluh tahun lalu.

“Saya ikut Om saya melaut dan dia menggunakan bom ikan. Waktu itu saya tidak tahu yang saya bakar itu bom ikan. Saya pikir sumbunya tidak menyala, ternyata menyala dan meledak di perahu.”

“Jarak bom dengan mata saya kurang lebih satu meter saja,” kata Melianus kepada CNNIndonesia.com di Kolam Renang Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Bandung (19/10).

Melawan putus asa yang mendera

Setelah momen itu, Melianus merasa kecewa dan sudah putus asa. Dia bingung dan tidak tahu jalan hidup ke depan. Matanya harus dioperasi dengan biaya yang tidak murah dan proses rehabilitasi yang memakan waktu.

“Saya sempat pakai kacamata hampir tiga bulan, diopname selama satu bulan, dan di ICU selama satu minggu. Keluar dari rumah sakit, saya berobat jalan terus operasi sebelah mata. Mata kanan saya dibelah dan dijahit.”

“Biaya saya waktu itu tidak mencukupi untuk operasi kedua mata karena satu mata memakan biaya Rp8 juta. Hasil operasinya pun tidak membuat mata normal kembali 100%, hanya bisa lihat samar-samar. Kalau cuaca panas sekali juga harus menggunakan kacamata hitam agar terlindungi,” katanya menambahkan.

Rasa kecewa dan putus asa semakin menjadi tatkala orang-orang di lingkungan sekitarnya mengejek dirinya.

“Dulu mereka bilang, ‘Kalau kamu tidak pegang itu (bom ikan), kamu tidak akan jadi seperti sekarang. Kamu bisa jadi polisi.’ Selain itu juga diejek teman, ‘Ah kamu jalan tidak bisa lihat.’,” ucap Melianus.

Kesabaran yang membuahkan hasil

Tetapi Melianus tidak larut dalam kekecewaan setelah salah seorang saudaranya yang merupakan atlet difabel, mengajak Melianus untuk turut menjadi atlet dalam cabang olahraga renang.

“Karena rumah di pinggir pantai jadi bakat alam sudah ada tinggal dipoles saja. Pada 2008, saya memberanikan diri untuk mencoba Pelatda selama dua bulan. Di Peparnas 2008 pertama kalinya saya bersyukur atas kondisi saya,” ujarnya.

Perlahan Melianus bangkit dan mulai menuai prestasi sebagai atlet difabel. Jalan hidupnya kembali terbuka.

Pada ASEAN Para Games 2011, Melianus sukses mendapat dua medali emas, satu perak, dan dua perunggu. Ia pun aktif mengikuti berbagai kejuaraan tingkat dunia di Myanmar, Korea, Singapura, Inggris dan Portugal. Meski sering tak dapat medali, pengalamannya bersaing dengan para atlet difabel membuat kemampuannya semakin terasah.

Puncaknya adalah saat ia turut serta mewakili Indonesia ke ajang Paralimpiade Rio de Janeiro 2016, Brasil. Dia turun di nomor 50 meter gaya bebas S13 dan 100 meter gaya dada SB13.

Di dua nomor tersebut, Melianus tidak lolos babak kualifikasi. Namun ia tetap merasa bangga atas prestasinya tersebut.

“Perlawanan di sana sangat berat, penyisihan sulit. Persaingan sangat kuat. Saya paling kecil di sana padahal di sini (Indonesia) kelihatan tinggi.

“Di 100 meter gaya dada saya rekor catatan waktu pribadi yakni 1:14.39 dan rekor Asia. Dan saya cukup puas karena saya ada di peringkat 9 dunia di nomor tersebut,” tutur Melianus.

Sepulang dari Brasil, Melianus tak terkalahkan di ajang Peparnas 2016. Ia sukses menyabet tiga medali emas di nomor 100 meter gaya dada S13, 50 meter gaya bebas S13, dan 100 meter gaya bebas S13.

Lewat perjuangan menjadi atlet difabel, kini sebagian besar impiannya sudah tercapai. “Rumah sudah punya, motor sudah punya, sudah berkeluarga juga. Pokoknya sudah cukup untuk sekarang ini,” tuturnya.

Melianus berharap agar masyarakat Indonesia yang punya anak dalam keterbatasan fisik, jangan lagi malu untuk menjalani hidup. Menurutnya saat ini atlet difabel sudah tidak dianggap remeh lagi.

“Dan di mata dunia juga kami sama, tidak ada yang beda. Pemerintah melihat kami sekarang sama (seperti atlet normal). Masalah pra sarana, bonus, dan makan sudah terjamin.”

“Jadi sekarang kita tidak usah malu. Jangan pikir yang kurang daripada kita, kita pikirkan bahwa kita bisa membawa bangga negara,” kata Melianus. (cnn/ptr/int)

LEAVE A REPLY