fm-base.co.uk

“Lain The Red Devils lain The Blues”, ada perbedaan mendasar antara kedua klub sepakbola ini dalam memanage teamnya secara keseluruhan. Gonta ganti pelatih sudah menjadi hal yang biasa pada klub London Barat ini.

Semua orang tahu bagaimana kekuatan financial telah menjadikan Chelsea menjelma menjadi sebuah klub yang disegani di Inggris Raya.

Chelsea

Dominasi Liverpol, Arsenal dan Manchester United mulai tergoyangkan setelah masukan Sang Taipan raja minyak dari Rusia dengan membeli Chelsea. Dalam waktu singkat sang taipan dengan kekuatan uangnya membeli banyak pemain bintang untuk menjadikan Chelsea sebagai kekeuatan bari di benua biru. Tak cukup disitu, pelatih sekelas Murinho pun dibayar untuk menangani Chelsea dengan tujuan menjadikan Chelsea sebagai team yang disegani.

Tak salah memang sang taipan, berkat ‘uang’ nya, beberapa gelar di liga domestik diraih dengan sangat ambisius, sehingga dominasi Big Four pun menjadi predikat bagi team London Timur ini.

Namun sangat disayangkan keinginan untuk meraih tropi tertinggi dibenua biru belum kesampaian sampai era Morinho didepak, begitu juga AVB, padahal tidak sedikit gelar yang telah dipersembahan oleh The Special One, sebutan untuk Murinho. Bahkan Sang Suksestor AVB, D’Mateo pun harus meninggalkan kursi panasnya, meskipun telah mempersembahkan gelar liga Champion bagi Chelsea.

Sang Taipan, Roman Abramovic tak segan-segan mengganti pelatih sesukanya meski harus memutus kontrak ditengah jalan dan harus tetap membayar gaji sesuai masa kontrak yang telah disepakai.

Tak dapat dipungkirin bahwa dikamar ganti Chelsea sering terjadi Roman Abramovic turun sendiri dan mengatur siapa pemain yang akan diturunkan sehingga berdampak kepada skema yang telah disusun pelatih yang sebenarnya. Ini yang membuat suasana di Chelsea kurang harmonis, para pemain seolah mendapat angin segar dari sang pemilik.

….. bersambung

Bams