Sebuah pelajaran berharga bisa kita dapat dari management gaya Roman Abramovic. Memang dibutuhkan kekuatan uang dalam membentuk sebuah team yang kuat, karena pemain bagus pasti memiliki nilai jual yang tinggi dan harus didapatkan dengan biaya transfer yang dan gaji yang tinggi pula. Namun harus diingat bahwa uang dan kumpulan pemain hebat saja tak cukup bisa menghasilkan sebuah team yang hebat. Perlu seorang nahkoda, perlu pelatih dan sekaligus pemimpin yang mampu meramu kekuatan yang ada didalam team untuk menjadi kekuatan sesungguhnya. Seringnya sang pemilik ikut campur dalam urusan pemain yang seharusnya menjadi ranah pelatih, menjadikan pelatih kesulitan menerapkan strategy dalam setiap pertandingan. Hal ini pula yang menjadi pemicu sehingga sering kali pemain berani berkonfrotasi dengan sang pelatih jika strategi dianggap kurang tepat. Tak ada yang tahu, apa yang ada dibenak Roman Abramovic, padahal sudah ratusan milyard dikeluarkan untuk membayar pelatih bagus dan mahal namun tetap tidak sepenuhnya menaruh kepercayaan kepada sang pelatih yang direkrutnya. Apakah ini suatu gejala atau memang sikap dasar dari Roman Abramovic …???

Dalam sebuah team harus ada kepercayaan kepada pemimpin, seluruh anggota team tanpa kecuali harus menaruh rasa hormat dan mau menurut apa kata pelatih/pemimpin. Karena untuk menjadi pelatih atau pemimpin pasti ada proses dan waktu yang pada akhirnya menetapkan seseorang layak menjadi pemimpin atau tidak.

c21

Bayangkan selama perioda 2004 hingga 2012, Chelsea telah mengalami pergantian pelatih hingga sembilan kali, mulai dari era Claudio Ranieri, Mourinho yang memberikan 2 kali gelar liga Inggris, Scollari yang tak sempat sampai separuh musim, hingga Roberto Di Matteo yang bahkan mempersembahkan tropi yang paling diinginkan sang Taipan pun harus meninggalkan Chelsea.

… bersambung

BAM’s