Anggapan bahwa golf hanya untuk orang berduit harus dibuang jauh-jauh. Nyatanya, banyak pemain bagus di negeri ini yang berasal dari kalangan menengah ke bawah. Salah satunya adalah Taufik Hidayat.

Pemuda kalem ini kerap tampil di berbagai turnamen golf di Tanah Air. Belum lama ini, dia bermain di turnamen K-Link di Riverside, Cibubur. Ditemui CEPAmagz usai acara tersebut, pemuda kelahiran 17 Juni 1984 ini bercerita tentang awal mula menggeluti olahraga asal Skotlandia itu.

“Rumah saya dekat dengan lapangan golf Sawangan. Namanya juga anak-anak, saat masih SD, saya dan teman-teman sering main ke lapangan,” kenangnya.

Taufik Hidayat Klink - cepamagz
Taufik Hidayat Klink

Taufik menuturkan anak-anak di sekitar lapangan golf Sawangan memang diizinkan main oleh pihak pengelola. Apalagi jika ada keluarganya yang bekerja di lapangan itu.

“Ayah saya caddy di sana. Jadi saya bisa main di lapangan itu,” tuturnya.

Bukan dengan stick bagus, Taufik kecil mengaku berlatih memasukkan bola dengan stick modifikasi. Stick tersebut terdiri dari setengah stick berbahan besi dan setengahnya lagi dari bambu.

“Saya sambung stick besi yang sudah patah dengan tongkat bambu. Akhirnya, jadilah stick setengah besi setengah bambu,” imbuhnya sembari tertawa.

Selain stick modifikasi, Taufik punya pengalaman unik lain saat belajar bermain golf. Pernah suatu ketika pundaknya terkena bola nyasar. Alhasil, badannya pun panas dingin karena luka dalam.

“Lima hari pundak saya benjol dan membiru. Tapi, untungnya tidak sampai trauma,” tuturnya tersenyum.

Taufik Hidayat di Bandung
Meski banyak kendala, semangat Taufik belajar golf tak pernah padam. Dia selalu tertantang jika ada teman yang mainnya lebih bagus. Apalagi, jika usianya di bawah dia.

Suatu hari, Taufik mendapat hadiah stick dari pamannya. Hati pemuda lajang ini pun makin terpacu berlatih golf. Taufik beruntung karena saat duduk di bangku SMP dia diterima menjadi atlet binaan Matoa National Golf Course.

“Setelah lama berlatih golf di Matoa, saya kemudian bekerja di sana sebagai marshal. Di sinilah saya mulai ikutan ngajar. Saya juga mulai kenal banyak pemain golf profesional,” terang Taufik.

Berkat keuletannya berlatih, pemain amatir yang mengidolakan Sergio Garcia ini dipercaya mewakili Jawa Barat di pentas Pekan Olahraga Nasional (PON) Riau 2012. Meski belum berhasil mempersembahkan medali, namun Taufik bangga bisa bermain di pentas yang lebih tinggi.

“Saya juga sempat masuk pelatnas Sea Games Myanmar 2013. Saat itu saya di peringkat tujuh besar. Karena yang dipilih empat orang, jadi saya gagal masuk,” ungkapnya.

Anak pertama dari dua bersaudara ini sekarang fokus mempersiapkan diri mengikuti Porda pada November 2014 di Cikarang. Taufik akan mewakili wilayah Depok.

“Setelah Porda dan PON, saya berencana jadi pegolf profesional, ” katanya semangat.

Taufik bersyukur karena jalan untuk menjadi pegolf profesional terbuka lebar. Apalagi, sejak 2010 dia mendapat dukungan dari K-Link Golf Club. Pemilik handycap dua ini secara khusus mengucapkan terima kasih kepada Presiden Direktur K-Link Indonesia Doktor Datuk Muhammad Radzi Saleh dan pelatih golf seniornya, Maman Suherman.

“Pak Maman yang pertama kali mengajaknya saya bergabung di K-Link Golf Club. Alhamdulillah dukungan dari K-Link, terutama Pak Radzi, besar sekali,” ungkapnya.

Taufik Hidayat Klink 2- cepamagz
Saking cintanya Taufik pada golf, dia mengaku belum punya waktu untuk melanjutkan studi ke perguruan tinggi. Jadwal latihan yang padat serta kesibukan lain di lapangan membuatnya harus fokus di golf.

“Saya latihan tiga sampai lima kali seminggu. Terkadang saya juga diminta melatih di lapangan. Jadi sementara ini saya fokus di golf dulu,” ujarnya.

Soal percintaan, Taufik mengaku masih belum punya calon istri. Menurutnya, di usia yang masih sangat muda, lebih baik dirinya 100% fokus menekuni olahraga golf.

Ok Mas Taufik, semoga makin sukses main golfnya. Jangan lupa kalau sudah dapat gebetan undang CEPAmagz biar makin ramai resepsi pernikahannya. (gem)